International Safety management

January 14th, 2010 by admin No comments »

Development of the ISM Code

A number of very serious accidents which occurred during the late 1980′s, were manifestly caused by human errors, with management faults also identified as contributing factors. Lord Justice Sheen in his inquiry into the loss of the Herald of Free Enterprise famously described the management failures as “the disease of sloppiness”.

At its 16th Assembly in October 1989, IMO adopted resolution A.647(16), Guidelines on Management for the Safe Operation of Ships and for Pollution Prevention. The purpose of these Guidelines was to provide those responsible for the operation of ships with a framework for the proper development, implementation and assessment of safety and pollution prevention management in accordance with good practice.

The objective was to ensure safety, to prevent human injury or loss of life, and to avoid damage to the environment, in particular, the marine environment, and to property. The Guidelines were based on general principles and objectives so as to promote evolution of sound management and operating practices within the industry as a whole. The Guidelines recognised the importance of the existing international instruments as the most important means of preventing maritime casualties and pollution of the sea and included sections on management and the importance of a safety and environmental policy.

After some experience in the use of the Guidelines, in 1993 IMO adopted the International Management Code for the Safe Operation of Ships and for Pollution Prevention (the ISM Code). In 1998, the ISM Code became mandatory. The Code establishes safety-management objectives and requires a safety management system (SMS) to be established by “the Company”, which is defined as the shipowner or any person, such as the manager or bareboat charterer, who has assumed responsibility for operating the ship. The Company is then required to establish and implement a policy for achieving these objectives. This includes providing the necessary resources and shore-based support.

Every company is expected “to designate a person or persons ashore having direct access to the highest level of management”. The procedures required by the Code should be documented and compiled in a Safety Management Manual, a copy of which should be kept on board. Impact of the ISM Code and its effectiveness

» Read more: International Safety management

Standard Marine Communication Phrases (SMCP)

January 14th, 2010 by admin 1 comment »

IMO’s Standard Marine Communication Phrases (SMCP) were adopted by the 22nd Assembly in November 2001 as resolution A.918(22) IMO Standard Marine Communication Phrases. The resolution adopts the Standard Marine Communication Phrases (SMCP) and recommends a wide circulation to all prospective users and all maritime education authorities. The IMO SMCP replace the Standard Marine Navigational Vocabulary (SMNV) adopted by IMO in 1977 (and amended in 1985). The SMNV was developed for use by seafarers, following agreement that a common language – namely English – should be established for navigational purposes where language difficulties arise and the IMO SMCP has been developed as a more comprehensive standardized safety language, taking into account changing conditions in modern seafaring and covering all major safety-related verbal communication.

The IMO SMCP includes phrases which have been developed to cover the most important safety-related fields of verbal shore-to-ship (and vice-versa), ship-to-ship and on-board communications. The aim is to get round the problem of language barriers at sea and avoid misunderstandings which can cause accidents. The IMO SMCP builds on a basic knowledge of English and has been drafted in a simplified version of maritime English. It includes phrases for use in routine situations such as berthing as well as standard phrases and responses for use in emergency situations. Under the International Convention on Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW), 1978, as amended, the ability to understand and use the SMCP is required for the certification of officers in charge of a navigational watch on ships of 500 gross tonnage or above. » Read more: Standard Marine Communication Phrases (SMCP)

Kapal Pesiar Termegah didunia

January 6th, 2010 by admin 1 comment »

Kapal ini akan segera di resmikan. Kapal itu diserahkan kepada Royal Caribbean cruiseline di pelabuhan Finlandia Turku oleh pembuat kapal STX.

Keunggulan kapal ini :

- 16 deck tinggi, atau 65 meter (213 kaki) di atas permukaan air
- panjang 1.180 kaki dan lebar 154 kaki
- memiliki kapasitas untuk menampung 6.360 penumpang dan 2.160 anggota kru.
- Sarana hiburan Tamu, mendaki tebing di atas laut
- taman pertama di atas laut,
- pos baris yang diagonal ras sembilan-deck di atas udara terbuka atrium, – 28 bertingkat perkotaan suite bergaya membual loteng lantai ke langit-langit jendela.

» Read more: Kapal Pesiar Termegah didunia

BALAI BESAR PENDIDIKAN PENYEGARAN DAN PENINGKATAN ILMU PELAYARAN

December 30th, 2009 by admin 2 comments »

Dalam derap langkah BP3IP untuk memenuhi kebutuhan tenaga Ahli dibidang kepelautan khususnya Ahli Nautika dan Ahli Teknika Kapal Niaga, BP3IP Jakarta telah meluluskan banyak pelaut dalam berbagai jenjang program Diklat Kepelautan dan Diklat Keterampilan Khusus Pelaut.

Perkembangan BP3IP Jakarta dimulai pada :

  1. Tahun 1949 : Her Halings Cursus. Dengan tugas pokok Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Pelaut untuk tingkat ijasah MPB-III dan AMK-A sampai dengan MPB-I dan AMK-C berdasarkan Diploma Reglemen tahun 1939
  2. Tahun 1953 : Kursus Ulangan Tambahan Ilmu Pelayaran disingkat “KUTIP” , tugas pokok Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Pelaut untuk tingkat ijasah MPB-III dan AMK-A sampai dengan MPB-I dan AMK-C berdasarkan Diploma Reglemen tahun 1939
  3. Tahun 1978 : Balai Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran disingkat “BP3IP”. Tugas pokok Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Pelaut untuk tingkat ijasah MPB-III dan AMK-A sampai dengan MPB-I dan AMK-C berdasarkan STCW 1978
  4. Tahun 2002 : Balai Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran disingkat “BP3IP” . Tugas pokok Melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Pelaut pada semua jenjang Kompetensi Pelaut berdasarkan STCW 1978
  5. Tahun 2005 : Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran disingkat “BP3IP” . Tugas pokok Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Pelaut pada semua jenjang Kompetensi Pelaut berdasarkan STCW 1978

BP3IP Jakarta dalam mengelola Program Diklat Kepelautan selalu mengutamakan mutu, oleh sebab itu tenaga Dosen / Pengajar / Instruktur adalah para Profesional yang sarat dengan pengalaman di bidang Keahlian Pelaut dan Pendidikan Kepelautan serta memiliki keunggulan kompetitif, terutama dalam menghadapi Era Globalisasi.

» Read more: BALAI BESAR PENDIDIKAN PENYEGARAN DAN PENINGKATAN ILMU PELAYARAN

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran

December 30th, 2009 by admin 1 comment »

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran adalah Pendidikan pelayaran yang berada dibawah naungan Badan Diklat Perhubungan Republik Indonesia. Berdiri sejak tahun 1953 Akademi Ilmu Pelayaran yang menyelenggarakan Program Diploma III (setara dengan BSc) dengan 2 jurusan antara lain: Nautika dan Teknika (sertifikat kompetensi Klas III), lama pendidikan 3-4 tahun.

Pada tanggal 27 februari 1957 AIP diresmikan oleh Presiden Pertama RI Ir. Soekarno. Saat itu juga menjadi Akademi Pelayaran Pertama di Indonesia. Lokasi kampus berada di Jl. Gunung Sahari, Mangga Dua Ancol, Jakarta Utara.

Pada tahun 1962 AIP menyelenggarakan kerjasama dengan Akademi Pelayaran Amerika yaitu Kings Point untuk kelas khusus. Sejak didirikan, AIP telah memilki reputasi yang baik sebagai Pusat pendidikan Pelayaran sehingga pada tahun 1974 sampai dengan 1984 AIP berhasil menyelenggarakan pertukaran pelajar dengan Tanzania, Malaysia dan Bangladesh.

Pada tahun 1964 Akademi Ilmu Pelayaran Niaga dan Akademi Telekomunikasi dilebur menjadi Akademi Ilmu Pelayaran. sehingga AIP mendapat lisensi untuk melaksanakan 4 program studi: Nautika, Teknika, Ketatalaksanaan dan Kepelabuhanan (KTK) dan Elektronika & Telekomunikasi.

Pada tahun 1983 Akademi Ilmu Pelayaran berubah nama menjadi Pendidikan dan Latihan Ahli Pelayaran (PLAP) dan diberikan lisensi untuk melaksanakan program Strata A, Strata B dan Strata C dengan 4 jurusan: Nautika, Teknika, Telekomunikasi Pelayaran dan Ketatalaksanaan dan Kepelabuhanan (KTK). Strata A merupakan program 3 tahun yang setara dengan BSc dengan sertifikat kepelautan kelas 3, Strata B merupakan program 1 tahun untuk pelaut yang memiliki pengalaman berlayar 2 tahun setelah mengikuti pendidikan Starta A dan memiliki sertifikat kepelautan kelas 2 dan Strata C merupakan program pendidikan dengan sertifikat kepelautan kelas 1.

sejarah5

Pada tahun 1995 PLAP mendapatkan lisensi untuk menyelenggarakan Program DiplomaIV dengan 3 Jurusan: Nautika, teknika dan Ketatalaksanaan dan kepelabuhanan (KTK) yang setara dengan Sarjana program kepelautan.

» Read more: Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran

Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang

December 30th, 2009 by admin 7 comments »

Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang adalah pendidikan tinggi negeri milik Departemen Perhubungan RI. mengemban tugas mendidik dan melatih pemuda-pemudi lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di bidang pelayaran dan kepelabuhan menjadi Perwira Pelayaran Besar dan Tenaga Ahli Angkutan Laut/Kepelabuhaan guna memenuhi kebutuhan armada angkutan laut pada sub sektor perhubungan laut. Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang yang sebelumnya bernama BPLP mulai tahun akademik 1995/1996 membuka program diklat kepelautan dan kepelabuhan Diploma IV merupakan jenjang pendidikan profesional. Lulusan program Diploma IV berhak diberikan S.Si.T.

Dengan adanya peningkatan/kemajuan yang meliputi aspek program pendidikan, tenaga pengajar, lulusan, tenaga penunjang, sarana dan prasarana, maka sejak tahun 1951 terjadi perubahan pelembagaan hingga menjadi Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang pada tahun 1999 dan telah masuk White List di Internasional Maritime Organization tahun 2000, sebagai berikut :

  1. Tahun 1951 – 1955 bernama Sekolah Pelayaran Semarang disingkat SPS.
  2. Tahun 1955 – 1975 bernama Sekolah Pelayaran Menengah Semarang   disingkat SPM Semarang
  3. Tahun 1974 – 1981 bernama Pendidikan Pariwira Pelayaran Besar disingkat P3B Semarang
  4. Tahun 1979 – 1995 bernama Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) Semarang dengan program Strata A (Diploma III) dengan lama pendidikan 3 tahun
  5. Tahun 1995 masih bernama BPLP Semarang, tetapi programnya ditingkatkan menjadi Diploma IV (setara Sarjana/S1) dengan Politeknik Ilmu Pelayaran pendidikan 4 tahun.
  6. Tahun 1999 berdiri Politeknik Ilmu Pelayaran berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 81 Tahun 1999 Tgl. 13 Oktober 1999 tentang Organisasi dan Tata Kerja PIP.

» Read more: Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang

Balai Pendidikan Dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Tangerang

December 29th, 2009 by admin 4 comments »

BP2IP Tangerang adalah sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan maritim di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Departemen Perhubungan.

Pembangunan BP2IP Tangerang dimulai 27 Oktober 2002 di atas lahan yang luasnya kurang lebih 18000 meter persegi.Dan diselesaikan 27 Pebruari 2004. BP2IP Tangerang telah diresmikan pengoperasiannya, berdasarkan keputusan Menteri Perhubungan, KM. No. 45 tanggal 16 Oktober 2003, oleh Presiden RI, Ibu Megawati Sukarnoputri pada tanggal 27 Pebruari 2004.

Pengoperasian BP2IP Tangerang ditujukan untuk penyedian jasa pendidikan dan pelatihan di bidang maritim bagi para generasi muda pada tingkat menengah dan dasar yang disesuaikan dengan peraturan international, STCW 1978 amended 1995.

» Read more: Balai Pendidikan Dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Tangerang

Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Barombong

December 29th, 2009 by admin 6 comments »

Sesuai dengan visinya, menjadi institusi diklat kepelautan tingkat dasar dan menengah yang dipercaya di pasar global dengan menghasilkan pelaut dengan keunggulan kompetensi sesuai standar nasional dan internasional.

Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran BP2IP Barombong, hingga saat ini terus mencetak taruna dan siswa terbaik yang siap pakai. Berbagai program ilmu yang dijalankan, berprospek sebagai karir pelaut kapal niaga dan tenaga professional di maritim industri.

Seiring dengan sejarah perkembangannya, jebolan BP2IP Barombong, telah merambah di dunia industri kelautan di negeri ini. Bahkan tenaga-tenaga mereka banyak dipakai pada perusahaan pelayaran mancanegara, sejak Presiden Soeharto dan Perdana menteri jepang tanaka, pada Tahun 1974 membicarakan kerjasama dengan pemerintahan jepang dalam memenuhi kebutuhan pelaut tingkat dasar.

Jepang yang dikenal sebagai negara super tehnologi, ketika itu mengirim tim survey yang dipimpin oleh Prof. Funio Shintani, sekaligus merumuskan desin dasar dan lokasi pembangunan di Sumatera, Jawa, dan Seram.

Pada Tanggal 28 Juni 1980 gedung diresmikan penggunaannya oleh Menteri perhubungan Roesmin Nuryadin dengan nama Balai Pendidikan dan Pelatihan Pelayaran Dasar (BPLPD) atau Barombong Rating School . Dengan mengantongi legalitas institusi, pada Tahun 2003 berubah menjadi BP2IP, dengan sukses mencetak taruna dan siswa terbaik.

» Read more: Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Barombong

Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Surabaya

December 29th, 2009 by admin 4 comments »

Adalah satu satunya lembaga pelayaran negeri,yang mendidik calon perwira taruna-taruni sebagai calon perwira pelayaran niaga,melalui program Diklat Pelaut-IV (DP-IV) dan Diklat Pelaut Dasar(DP-D) , serta menyelenggarakan pendidikan pelaut penjenjangan,ANT/ATT-V ,dan ANT/ATT-IV di wilayah indonesia timur .

Secara organisasi BP2IP surabaya berada di bawah Badan Diklat Departemen Perhubungan

» Read more: Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran Surabaya

Jenis-Jenis Kapal

December 27th, 2009 by admin 2 comments »

1.Kapal pesiar

Kapal pesiar (bahasa Inggris: cruise ship atau cruise liner) adalah kapal penumpang yang dipakai untuk pelayaran pesiar. Penumpang menaiki kapal pesiar untuk menikmati waktu yang dihabiskan di atas kapal yang dilengkapi fasilitas penginapan dan perlengkapan bagaikan hotel berbintang. Sebagian kapal pesiar memiliki rute pelayaran yang selalu kembali ke pelabuhan asal keberangkatan. Lama pelayaran pesiar bisa berbeda-beda, mulai dari beberapa hari sampai sekitar tiga bulan tidak kembali ke pelabuhan asal keberangkatan.

Kapal pesiar berbeda dengan kapal samudra (ocean liner) yang melakukan rute pelayaran reguler di laut terbuka, kadang antar benua, dan mengantarkan penumpang dari satu titik keberangkatan ke titik tujuan yang lain. Kapal yang lebih kecil dan sarat air kapal yang lebih rendah digunakan sebagai kapal pesiar sungai.

2.Kapal penumpang

Kapal penumpang adalah kapal yang digunakan untuk angkutan penumpang. Untuk meningkatkan effisiensi atau melayani keperluan yang lebih luas kapal penumpang dapat berupa kapal Ro-Ro, ataupun untuk perjalanan pendek terjadwal dalam bentuk kapal feri.

» Read more: Jenis-Jenis Kapal