Mahasiswa Fakultas Teknik UI telah menjajaki kerjasama militer dengan Mabes TNI mengenai pemanfaatan kapal tanpa awak dalam pertahanan Indonesia. Kerjasama dengan Mabes TNI ini disebut SEA GHOST Project. Konsep Road Mapnya adalah tentang Cyber Warfare dalam pertahanan Indonesia, dimana nantinya kapal tanpa awak ini akan dikendalikan melalui komunikasi satelit. Kapal ini digunakan untuk melakukan penyerangan terhadap kapal penyusup. Jika kapal tanpa awak ini terkena serangan peretas atau virus dalam komunikasi datanya (yang potensial menjadikan gerakan kapal tanpa awak ini menjadi kacau atau tak terkendali), maka PUSINFOLAHTA – Mabes TNI akan melakukan perlawanan terhadap virus atau serangan peretas sehingga kapal tanpa awak ini dapat dikendalikan kembali dan memulai penyerangan terhadap kapal musuh/penyusup kembali.
Prototipe kapal tanpa awak yang dikerjakan oleh para mahasiswa UI ini ditampilkan di stand Mabes TNI pada acara Indo Defence2012 yang diselenggarakan di Jakarta International EXPO – Kemayoran pada 7-10 November 2012 yang lalu. Kapal tanpa awal yang diberi nama Makara-02 ini sebelumnya telah meraih penghargaan desain terbaik se-Indonesia dan berhasil melampaui 4 rintangan secara otomatis tanpa kendali dibandingkan peserta lain pada Kontes Kapal Cepat Tak Berawak 2012 Kategori Autonomous yang dilaksanakan di Pantai Kartini – Jepara.
Makara-02 merupakan robot kapal tanpa awak yang dikembangkan dari Makara-01, yaitu robot kapal tanpa awak sebelumnya yang dilombakan di Amerika Serikat. Robot kapal tanpa awak ini berdimensi 4,94 kaki x 2,96 kaki x 0,73 kaki dengan sistem kendali otomatis berdasarkan sensor kamera aspek kunci dari desain Makara-02 adalah desain berteknologi tinggi yang memperhatikan aspek stabilitas dan hambatan yang sangat rendah merupakan perpaduan antara SWATH (Small Waterplane Area Twin Hull) dan teknologi Wave Piercing sehingga kapal jauh memiliki nilai inovasi yang tinggi dibandingkan dengan peserta lain.
Robot kapal tanpa awak MAKARA-02 ini nantinya akan digunakan sebagai model untuk uji towing tank untuk memprediksi hambatan pada SEA GHOST yang berukuran FLEET CLASS yaitu memiliki panjang kurang lebih 10 m dan memiliki payload lebih dari 2 ton, sehingga stabilitas kapal sangat baik ketika dilengkapi persenjataan dan sistem komunikasi yang canggih. Perkembangan Kapal tanpa awak ini berkembang pesat di Amerika Serikat, Israel dan bahkan telah digunakan di Singapura. Kinilah saatnya militer kelautan kita bergerak maju demi menjaga ketahanan bangsa Indonesia melalui SEA GHOST PROJECT Universitas Indonesia.

Makara-02
BANYUWANGI – Kekuatan TNI Angkatan Laut kini kian kuat.Kemarin satu kapal cepat rudal (KCR) yang diyakini mampu menjadi kekuatan pemukul di matra laut, KCR Trimaran, resmi diluncurkan dari galangan kapal milik PT Lundin Industry Invest di Pantai Cacalan,Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi,Jawa Timur.
Kapal perang pertama berlunas banyak di Asia Tenggara, bahkan diklaim sebagai salah satu tercanggih di dunia,secara resmi dinamakan KRI Klewang– pedang bermata tunggal tradisional asal Pulau Madura– dengan nomor lambung 625. Selain kecanggihan teknologinya, desain kapal juga terbilang radikal karena sisi depannya sangat lancip dan berlunas tiga (trimaran) dengan keseluruhan elemen berbahan dasar infus vinylester karbon fiber.
Dengan penggunaan material seperti ini bodi KRI Klewang mampu menginduksi panas sehingga sulit terdeteksi radar (stealth). Peluncuran kapal perang yang memiliki panjang keseluruhan 63 meter itu dilakukan Wakil Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Pertama Sayyid Anwar, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, serta PT Lundin.“Kapal ini pengembangan lanjutan dari riset agar TNI AL tetap diperhitungkan di dunia internasional. Kapal ini sangat canggih dan baru ada di Amerika Serikat dan Indonesia,” kata Sayyid Anwar.
Dia menjelaskan, KRI Klewang ini dianggarkan dari pengadaan dana sisa anggaran tahun 2009 yang kemudian pengerjaan kapal dilakukan oleh PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi. KRI Klewang akan dipersenjatai peluru kendali asal China C-705 yang akan diproduksi di Indonesia dengan jarak tembak hingga 120 kilometer.“ Kapal cepat siluman ini yang pertama dengan menggunakan rudal dan berlunas trimaran.
Kapal ini tidak bisa terdeteksi oleh radar karena menggunakan bahan khusus salah satunya dari komposit,” ujarnya. Spesifikasi kapal itu memiliki panjang 63 meter,kecepatan maksimal 35 knot, bobot 53,1 GT, serta mesin utama 4x marine engines MAN nominal 1.800 PK. Saat diluncurkan ke perairan Selat Bali, kondisi pengerjaan KRI Klewang baru selesai 90%.Adapun finalisasinya, termasuk pemasangan peralatan persenjataannya, akan dilakukan di Pangkalan TNI AL Banyuwangi.
Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto menilai peluncuran KRI Klewang yang berjenis kapal cepat rudal merupakan awal yang baik bagi pengembangan kapal modern pada masa mendatang. Sekarang ini hanya ada beberapa negara yang mampu membuat kapal dengan tiga lambung seperti Amerika Serikat dan Jerman.

Karena itu, jumlah kapal berlambung tiga ini juga masih sedikit di dunia, apalagi yang digunakan untuk kapal militer. “Kapal dengan tiga lambung ini menjadi arah pengembangan industri ke depan, dan kita sudah mampu membuatnya,” katanya. Andi menilai, Indonesia perlu mengembangkan kapal seperti ini karena selain mengikuti arah pengembangan kapal modern,kapal jenis ini juga cocok dengan kondisi perairan Indonesia.
Kapal ini memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan kapal-kapal lain yang berlambung satu. “Ini sangat cocok untuk kondisi perairan dengan gelombang dan angin keras seperti yang ada di Indonesia,”ungkap dia. Meskipun merupakan salah satu kapal modern, kehadiran kapal ini bagi jajaran TNI Angkatan Laut dinilai belum cukup memberi perubahan berarti bagi perimbangan kekuatan dengan negara tetangga.
“ Trimaran belum memberi perubahan apa-apa karena kapasitas minim, teknologi, dan tonase kecil,”bebernya. Karena itu, kapal ini perlu dikembangkan lagi pada masa mendatang. Andi menyebut ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pengembangan antara lain dari segi kapasitas tonase. KRI Klewang memiliki tonase yang kecil sehingga menjadi masalah tersendiri karena tak bisa mengangkut amunisi banyak untuk senjata rudal yang dimilikinya.
KRI Klewang dilengkapi peluru kendali (rudal) yang standarnya sama dengan kapal perang jenis fregate. “Hanya tonase kecil, masalah utama ada di daya angkut amunisi.Ke depan perlu dikembangkan kapal sejenis dengan kapasitas lebih besar, minimal menyerupai fregate, ”tuturnya. Selain itu, pengembangan juga diharapkan menyangkut masalah teknologi yakni membuat kapal menjadi antiradar (stealth).
“Amerika Serikat sekarang sudah merancang prototipe yang stealth. Kalau yang KRI Klewang ini belum stealth, baru andalkan teknologi permukaan saja dan memiliki lambung tiga,” sebut Andi. Untuk bisa membuat kapal antiradar (stealth),dibutuhkan bahan dan teknologi khusus dalam membuatnya. Kapal antiradar berbahan titanium ringan yang proses pembuatannya didesain sedemikian rupa sehingga mampu meminimalisasi irisan radar hingga mendekati nol.
Cocok untuk Karakteristik Indonesia
Direktur PT Lundin Industry Invest Lizza Lundin dan John Lundin memaparkan,kapal ini hasil kolaborasi riset, desain, dan pengembangan antara North Sea Boats Pte Ltd/PT Lundin dan arsitek kapal LOMOCean dari Selandia Baru yang dilakukan secara intensif selama 24 bulan. “Hasil kolaborasi tersebut merepresentasikan suatu langkah maju dalam penggunaan teknologi maju di bidang pembuatan kapal perang,”kata Lizza.
Penggunaan bahan baku karbon foam sandwich untuk aplikasi kapal dalam skala yang luas seperti itu suatu hal yang belum pernah dilakukan di luar Skandinavia dan suatu representasi kemutakhiran teknologi di bidang rekayasa struktural dan produksi. Dengan kemampuan stabilitas yang sangat baik dan rancangan lambung yang dangkal, kapal ini didesain untuk berpatroli di pesisir yang panjang.
Bentuk lambung dirancang agar kapal dapat melaju dengan kecepatan yang tinggi,namun dengan tetap memperhatikan kemampuan kru atau kapal untuk beroperasi di laut curam dan pendek yang merupakan karakteristik garis pantai di kepulauan di Indonesia. Sedangkan bagian bawah garis air telah dioptimalkan untuk dapat mencapai kecepatan jelajah yang cukup jauh.
Pajang, posisi melintang dan membujur, serta kemampuan peredaman dari masingmasing lunas telah dirancang secara khusus guna daya tahan terbaik dengan menggunakan analisis slender bodydan towing tank. Desain struktural,meskipun masih memerlukan persetujuan dari Germanischer Lloyd di Hamburg Jerman, menggunakan metodologi desain yang dirancang khusus untuk geometri dari sebuah kapal berlunas tiga yang dapat memecah ombak.
Konstruksi kapal ini menawarkan beberapa keunggulan antara lain lebih ringan (karbon fiber yang telah dilaminasi memimiki tingkat kepadatan separuh lebih rendah daripada alumunium) dan efisien dalam biaya perawatan (karbon komposit tidak dapat berkarat dan memiliki batas kelelahan yang tinggi). Kapal tersebut juga mempunyai kemampuan tidak terdeteksi oleh radar karena bentuk panel yang benar-benar datar yang didapat sebab tidak ada distorsi selama proses perakitan, tingkat keakuratan geometris yang sangat tinggi, tidak mengandung unsur magnet, tingkat deteksi panas,dan suara yang rendah.
Untuk tenaga dan sistem propulsi,kapal ini menggunakan beberapa mesin diesel MAN V 12 dan waterjet MJP 550, yang mana terletak di lunas tengah dan juga di masing-masing lunas kiri dan kanan, guna menghasilkan tenaga pendorong yang maksimum dan kemampuan bermanuver yang baik. “Ruang akomodasi disediakan untuk 29 orang kru kapal pada tiga lantai dek termasuk anjungan kapal dan ruang kendali, juga disediakan fasilitas dan peralatan termasuk kapal rigid inflatable boat sepanjang 11 meter yang dapat dipergunakan untuk penerjunan pasukan khusus,”katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, KRI Klewang dapat dipersenjatai dengan berbagai tipe/ sistem rudal,termasuk Tipe 705 (up to 8), RBS15,Penguin, atau Exocet,dan senjata/ kanon 40 – 57 mm, serta Close in Weapon System (CIWC).Sistem persenjataan kapal ini akan disuplai secara turn key oleh CSIC dan CPMIEC dari China,yang mana sistem tersebut akan meliputi rapid fire CIWC,combat control, dan sistem rudal.Namun, konfigurasi persenjataan seperti apa yang akan digunakan masih dirahasiakan.
Tapi, senjata atau rudal ini dapat ditempatkan di bagian tertinggi di atas dek sehingga memberikan kemampuan penglihatan dan penembakan yang baik. Sensor juga dapat ditempatkan di bagian yang sama.Semua hal tersebut tidak akan mengurangi stabilitas kapal ini. Kapal itu akan diselesaikan secara sepenuhnya setelah peluncuran dan akan diikuti dengan uji coba laut dan training yang intensif sebelum dioperasionalkan pada 2013. “Uji coba itu kira-kira selama sebulan dengan di dalamnya terdapat 27 kru dari pasukan AL,”katanya.

Indonesia segera memiliki satu kapal perang canggih berpeluru kendali “Trimaran” yang merupakan produk dalam negeri. ”Kapal ini terbuat dari serat karbon, dengan kecepatan 35 knot dan dipersenjatai peluru kendali yang memiliki jarak tembak 120 kilometer,” kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin usai meninjau industri kapal dalam negeri PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi, Jawa Timur.
Ia mengatakan, dalam lima bulan mendatang kapal perang canggih yang merupakan prototipe itu langsung bisa dioperasionalkan memperkuat jajaran armada tempur TNI Angkatan Laut. ”TNI Angkatan Laut memesan empat unit kapal, dan dalam lima bulan mendatang sudah jadi satu kapal perang `Trimaran`, sedangkan tiga unit lainnya akan segera dibangun secara bertahap hingga 2014,” kata Sjafrie menambahkan. Satu unit kapal “Trimaran” dihargai sekitar Rp114 miliar yang diambil dari APBN 2011.
“Jika proyek pengadaan ini berhasil maka ini merupakan sejarah bagi Indonesia karena telah berhasil membuat kapal perang dengan komposit serat karbon, dan ini akan dipatenkan dan diekspor ke luar negeri,” kata Sjafrie. Direktur PT Lundin Industry Invest, John Lundin, mengatakan pihaknya telah melakukan ujicoba terhadap kapal dengan panjang sekitar 62,52meter tersebut. ”Ini merupakan kapal `Trimaran` pertama yang dibuat dari serat karbon. Amerika pernah membuat kapal sejenis dengan panjang 120 meter namun dari bahan alumunium atau baja.
Komposit serat karbon juga telah digunakan untuk pembuatan pesawat airbus Boeing-777 dan mobil formula 1. Ketahanannya 20 kali lebih kuat dibandingkan baja. Kapal cepat berpeluru kendali itu memiliki panjang keseluruhan 62,53 meter, panjang “water line”, 50,77 meter panjang “water draft” 1,17 meter, bobot mati 53,1 GT, kecepatan maksimum 30 knot, kecepatan jelajah 16 knot, dengan mesin utama 4X marine engines MAN nominal 1.800 PK.
Konsep Littoral Combat Ship(LCS)ada kemiripan dengan USS Independence (LCS-2)



Menhan Meninjau Pembuatan Kapal Cepat Rudal Trimaran di Banyuwangi

Di penghujung tahun 2011, Kementerian Pertahanan dan perusahaan militer Rusia JSC Rosoboronexport melakukan penandatanganan untuk kelanjutan pengadaan enam pesawat jet tempur Sukhoi, untuk memperkuat satuan tempur TNI Angkatan Udara. Pengadaan enam unit pesawat tempur generasi 4,5 itu melengkapi 10 pesawat sejenis yang telah dimiliki Indonesia dengan tipe SU-27SK, SU-27SKM, SU-30MK dan SU-30MK2. Beberapa hari sebelumnya, Kementerian Pertahahan juga melakukan penandatanganan kontrak pengadaan tiga kapal selam dengan perusahaan galangan kapal Korea Selatan Daewoo Shipbuilding Marine Enginering (DSME), untuk memperkuat satuan tempur TNI Angkatan Laut. Untuk matra darat, Pemerintah Indonesia juga sebelumnya telah mendatangkan enam helikopter Mi-17 V-5 dari Rusia. Pada 2012 bahkan mulai dijajaki sejumlah pembelian kendaraan tempur taktis dari Eropa seperti Main Battle Tank dari Belanda.
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan seiring dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang makin membaik, maka alokasi anggaran untuk pertahanan pun lambat laun mengalami peningkatan meski masih relatif kecil dibandingkan negara-negara ASEAN lain dalam hal belanja modal persenjataan. Untuk pertama kalinya sejak 1962, anggaran pertahanan pada 2012 menjadi nomor satu, dengan jumlah menjadi Rp64,4 triliun mengalahkan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum (Rp 61,2 triliun) dan Kementerian Pendidikan Nasional (Rp 57,8 triliun). Jumlah untuk meningkat dari APBN-Perubahan 2011 yakni Rp47,5 triliun. Tak hanya membeli persenjataan baru, Indonesia selama 2011 juga telah menjajaki dan menyepakati sejumlah hibah alat utama sistem senjata yang ditawarkan seperti pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Sedangkan hibah empat unit pesawat angkut C-130 Hercules dari Australia yang tertunda akan dilanjutkan pada awal 2012.
Wakil Menteri Pertahahan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan target modernisasi militer diprioritaskan pada alutsista yang bergerak seperti kendaraan tempur, pesawat tempur, dan kapal selam beserta persenjataannya. Terkait itu, Indonesia tidak saja mendatangkan alat utama sistem senjata dari mancanegara melainkan juga memproduksi sendiri dalam rangka merevitalisasi industri pertahanan dalam negeri. Tengoklah kapal cepat berpeluru kendali yang kini sedang dikerjakan PT Lundin Industry Invest di Banyuwangi. Kapal berbahan serat karbon itu merupakan kapal Trimaran pertama di dunia yang akan diproduksi Indonesia lengkap dengan kemampuan menghilang dari tangkapan radar lawan. Tak hanya itu, PT Pindad pun telah memproduksi ratusan panser Anoa, empat unit panser intai yang di Eropa dikenal sebagai “Sherpa”. ”Kita memang belum memberinya nama,” kata Direktur PT Pindad Adik Sudarsono.
Terdapat pula enam unit panser Mortar 81 mm dan tiga unit panser recovery. ”Yang jelas jika pengadaannya dari luar, kita mensyaratkan adanya alih teknologi, sehingga suatu ketika nanti putra-putri Indonesia mampu membuat pesawat tempur dan kini yang tengah dijajaki adalah pembuatan kapal selam,” kata Sjafrie. Sebagian dari beragam kontrak pengadaan alat utama sistem senjata yang telah disepakati akan direalisasikan bertahap mulai 2012 hingga 2014 dan seterusnya. Sehingga militer Indonesia diharapkan benar-benar bangkit, besar, kuat dan profesional. Krusial Pengamat militer dari Universitas Indonesia (UI) Andi Widjajanto menyebutkan 2012 merupakan masa peralihan yang cukup menentukan dalam keberhasilan mencapai kekuatan pokok minimum (minimum essential forces /MEF) dalam pembangunan kekuatan militer Indonesia. ”Postur anggaran 2012 memang relatif terasa dampaknya untuk pemeliharaan atau perbaikan dan pengadaan dari dalam negeri. Tapi,kalau untuk pengadaan dari luar negeri belum ada,” katanya berpendapat.
Menurut Andi Widjajanto, anggaran Rp64,4 triliun yang akan dikucurkan pada 2012 menegaskan keseriusan pemerintah untuk membangun alutsista TNI yang andal. Tapi,tetap saja angka itu masih jauh dari cukup untuk bisa mengejar kekuatan pokok minimum yang ditarget hingga 2024. Jika kondisi itu terus terjadi tiap tahunnya, Andi yakin MEF tidak akan tercapai sesuai target. Mengacu pada target 2024, maka pada 2012 mestinya tersedia alokasi Rp80 triliun. Bahkan, kalau bisa mencapai Rp90 triliun agar pada 2014 (akhir pemerintahan SBY periode kedua) tercapai Rp120 triliun. Jadi, secara perbandingan dengan GDP,pada 2014 tercapai 1,25 persen dan 2012 sebesar satu persen. Ia menambahkan alutsista- alutsista tua itu idealnya memang tidak dipakai lagi dan harus diganti dengan yang baru.Apalagi beban perbaikan alutsista yang sudah usang juga cukup berat. Namun, kondisi sekarang belum memungkinkan untuk mencapai hal itu.
“Harusnya jika 10 dibuang, maka yang beli baru lagi 10. Tapi,yang terjadi sekarang adalah 10 dibuang, tapi beli barunya cuma dua, yang enam diperbaiki, empat benar-benar dibuang,” tutur Andi. Andi membeberkan usia alutsista yang dipakai TNI sekarang ini banyak yang telah tua, yakni 25-40 tahun. Bahkan dia menyebut alutsista yang telanjur uzur dan harus diganti mencapai sekitar separuh dari yang ada. Dengan kondisi tersebut, tingkat kesiapannya rata-rata hanya sekitar 40 persen. Dalam postur RAPBN 2012, Kemenhan seperti yang disampaikan Dirjen Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan Marsda TNI Bonggas S Silaen, dari besaran alokasi sebesar Rp64,4 triliun sekitar 40,1 persennya atau Rp25,84 triliun untuk belanja, yakni alutsista. Sisanya belanja pegawai Rp27,18 triliun (42,2 persen) dan belanja barang Rp11,41 triliun (17,7 persen). Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, membangun militer tergantung pada dua hal, yakni seberapa besar ancaman yang ada dan bagaimana standar penangkalan yang hendak diciptakan. Dua hal itu masih dipengaruhi kondisi keuangan negara.
“Jadi MEF itu bukan penangkalan yang levelnya rendah,tapi juga bukan yang tinggi,” ungkap purnawirawan TNI itu. Ia menilai dengan alokasi anggaran yang selama ini dikucurkan, target MEF sulit untuk dicapai sesuai rencana. ?Dengan anggaran Rp60 triliun-65 triliun per tahun, maka pada 2014 kapasitas yang tercapai baru sekitar 28 persen dari yang diinginkan,? ujarnya. Posisi Tawar Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie menilai kekuatan militer dapat digunakan sebagai alat tawar dalam memperjuangkan pembangunan perekonomian suatu negara. Ekonomi dan militer pada dasarnya merupakan perhubungan dua variabel yang bersifat timbal-balik.Artinya, jika militer kuat, ekonominya juga akan kuat.
Bagaimana pun tak bisa dipungkiri secara geopolitik dan geostrategi, Indonesia terletak pada posisi yang strategis dan menentukan dalam tata pergaulan dunia dan kawasan. Dengan potensi ancaman yang tidak ringan serta kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam, bangsa dan negara Indonesia memerlukan kemampuan pertahanan negara yang kuat untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI. Namun, setelah merebaknya krisis, pembangunan kemampuan pertahanan relatif terabaikan sehingga mengakibatkan turunnya kemampuan pertahanan negara secara keseluruhan. Karena itu dengan kenaikan anggaran pertahahan pada 2012, diharapkan kebangkitan militer Indonesia dapat benar-benar berjalan sehingga Indonesia mampu menghadapi berbagai ancaman baik aktual maupun potensial.
Sejarah setidaknya mencatat setidaknya dua kali dalam sejarah Republik Indonesia, TNI diperhitungkan sebagai kekuatan bersenjata yang tidak bisa dipermainkan dalam pertahanan dan nyata dampaknya pada posisi tawar politik luar negeri kita. Pertama, periode 1960-1962, ketika Presiden Soekarno mendorong Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk bersiap merebut Irian Barat dengan kekuatan militer. Meskipun situasi perekonomian nasional tidak terlalu baik, Bung Karno mengizinkan pembelian persenjataan secara besar-besaran. Dalam waktu kurang dari dua tahun, APRI menjelma menjadi kekuatan perang terbesar di bumi bagian selatan, antara lain Angkatan Laut mempunyai 12 kapal selam yang mampu berpatroli hingga ke bibir pantai barat Australia tanpa bisa di deteksi oleh negara itu.
Sementara itu, Angkatan Udara Republik Indonesia punya dua skuadron pengebom jarak jauh TU-16, yang dengan mudah mencapai seluruh wilayah Asia Tenggara dan Australia, menjatuhkan bom, serta kembali ke pangkalannya dengan selamat. Kedua, era 1980-1988. Pada kepemimpinan Jenderal M. Jusuf (1978-1983) dan Jenderal L.B. Moerdani (1983-1988), Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dibangun menjadi institusi militer yang modern dan profesional serta tidak berpolitik. Jenderal Jusuf mengawali programnya dengan cara sederhana: membangkitkan kembali harga diri prajurit dengan meningkatkan kesejahteraan, memperbaiki asrama, serta melatih ulang pasukan yang lama mengalami proses “penghalusan” karena jarang berlatih, persenjataan ketinggalan zaman, dan terabaikan kesejahteraan mereka.
Pada era berikutnya, Jenderal Moerdani mampu dengan cerdik melihat peluang membeli alat utama sistem senjata yang tidak baru (seperti enam fregat Van Speijk dari Belanda), memperbaiki dan memodernkannya hingga bisa beroperasi penuh lagi. Pada eranya, ABRI juga membeli 10 pesawat tempur F-16 Fighting Falcon. Kini dengan Indonesia kembali mencoba memperkuat kembali pertahanannya diharapkan posisi tawar Indonesia di segala bidang baik politik, ekonomi dan budaya dapat pula ditingkatkan.
Sumber

Di tengah polemik soal batas wilayah negara Indonesia-Malaysia, militer dua negara justru akur dalam patroli laut. Patroli Terkoordinasi Malaysia-Indonesia (Patkor Malindo) 113/2011 melaksanakan patroli dan latihan di perairan Selat Malaka. Kepala Dispenarmabar TNI AL, Letkol Laut (KH), Agus Cahyono dalam siaran pers kepada Tribunnews.com, Rabu (13/10/2011) mengungkapkan patroli itu telah berlangsung mulai akhir September 2011 itu. Unsur yang terlibat adalah Kapal Republik Indonesia (KRI) Jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) KRI Clurit-641, KRI Sigurot-864 dan Kapal Angkatan Laut Diraja Malaysia KD Gempita, dan KD Perkasa.
“Selama melaksanakan kegiatan patrol terkoodinasi di masing-masing wilayah perairan, digunakan pula kesempatan tersebut untuk berlatih pada saat pelaksanaan operasi yang dilakukan oleh dua unsur atau lebih yang sedang melaksanakan patroli pada area yang sam,” tulis Letkol Laut (KH), Agus Cahyono. Patkor Malindo tersebut diharapkan dapat meningkatkan keamanan di Selat Malaka dan menekan tindak pelanggaran di laut. Selain itu dengan latihan dapat bermanfaat untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme prajurit, sekaligus untuk menguji kesiapan teknis unsur.
“KRI Clurit-641 bermanuver bersama dengan Kapal Dagang (KD) Perkasa setelah menjalin komunikasi pada saat Rendezvous (RV) pada posisi 06°15,20’ U–099°41,20 T di Perairan Selat Malaka,” tulis Letkol Laut (KH), Agus Cahyono. Manuver yang dilaksanakan tersebut adalah bagian dari RASAP (Replenishment At Sea Approach) sampai dengan melaksanakan station keeping. Selama mempertahankan stasiun, prajurit komunikasi kedua kapal perang saling berkomunikasi dengan menggunakan bendera semaphore. Setelah latihan berakhir kedua kapal melanjutkan pelayaran untuk berpatroli di sektor operasi Patkor Malindo. Latihan tersebut dimulai oleh seluruh unsur yang tergabung dalam Patkor Malindo bergerak meninggalkan dermaga Lantamal I Belawan dalam bentuk formasi satu.
Setelah keluar dari alur keempat kapal tersebut melaksanakan latihan RASAP secara bergantian diselingi dengan latihan isyarat bendera semaphore. Selanjutnya unsur kapal perang Koarmabar melaksanakan latihan di sisi timur Pulau Berhala. Latihan yang dilaksanakan antara lain isyarat sinar bidik, komunikasi taktis, dan manuvra taktis.
Kapal Selam TNI AL Paling Mutakhir
KAPAL selam untuk mendukung pelaksanaan tugas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dalam mengamankan wilayah laut Indonesia akan memiliki sistem senjata paling mutakhir. Kapal selam ini merupakan buatan Korea Selatan yang dilakukan dalam bentuk joint production Indonesia-Korsel. “Kapal selam yang paling canggih saat ini tipe 214. TNI AL akan memadukannya dengan mengambil bodi kapal tipe 209 1.500 ton, tapi dengan sistem persenjataan 214,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno kepada wartawan usai menghadiri gladi bersih upacara peringatan HUT TNI di Markas Besar (Mabes) TNI di Cilangkap Jakarta, Senin (3/10). KSAL menambahkan, Indonesia telah memiliki kapal selam jenis 209 berbobot 1.300 ton.
KSAL menuturkan, saat ini kemampuan industri pertahanan dalam negeri belum mampu untuk membangun kapal selam. Karenanya pengadaan kapal selam ini dilakukan dalam bentuk joint production dengan Korsel. Kerja sama yang akan menghasilkan tiga unit kapal selam ini akan dilakukan di kedua negara. Pembangunan kapal selam pertama dilakukan di Korea disertai pengiriman ahli dari Indonesia untuk mempelajari teknologinya. “Yang kedua separuh-separuh oleh kedua negara, dan yang ketiga baru di bangun di Indonesia,” jelas KSAL.
Dijelaskan Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di tempat yang sama, pengadaan alat utama sistem senjata (Alutsista) harus dibeli dari produksi dalam negeri. “Kalau belum bisa, kita lakukan joint production. Kalau joint production pun tidak bisa, boleh membeli, seperti kapal selam ini,” kata Panglima. Namun demikian, kata Panglima, pembelian kapal selam buatan Korsel ini menguntungkan Indonesia karena dapat dilanjutkan dengan joint production sehingga terjadi transfer teknologi.
Pada Jumat (30/9) lalu KSAL mengatakan, biaya pembangunan tiga kapal selam ini menghabiskan dana Rp9,5 triliun. Pengadaan kapal selam untuk TNI AL ini menjadi prioritas setelah pengadaannya terlambat 2-3 tahun. Untuk menyusul keterlambatan ini, pengadaan kapal Selam tersebut akan dipercepat dari 30 bulan menjadi hanya 1,5 tahun.

Semoga Segera Tercapai Untuk Menjaga Kedaulatan Negara Indonesia……..
JAKARTA – Pemerintah akan mengoptimalkan pengadaan Kapal Cepat Rudal (KCR) untuk pengamanan laut RI wilayah Barat. Hal ini merupakan salah satu upaya pemenuhan kekuatan pokok militer yang diagendakan hingga 2024. ”KCR ini lebih adaptable untuk wilayah barat karena lautnya dangkal. Untuk wilayah timur diutamakan kapal-kapal besar karena disamping lautnya dalam, ombak besar, juga ancaman yang harus dihadapi,”kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro usai silaturahmi dengan para pemimpin media massa di Kementerian Pertahanan di Jakarta. Dikatakan Menhan, pemerintah menargetkan 10 KCR dalam 5 tahun ke depan. Hal ini karena produksinya bisa dikerjakan di dalam negeri melalui PT.PAL
Menhan menambahkan, untuk memperkuat armada pertahanan laut wilayah timur, pemerintah juga akan membangun kapal sekelas fregat yakni Kapal Patroli Kawal Rudal (PKR). “Kami percayakan pada PT PAL. Harapannya nanti bisa dikerjakan PT.PAL secara menyeluruh. Sekarang baru 40-50 persen local contentnya,”katanya. Dalam 5 tahun ke depan, pemerintah juga akan membangun kapal selam untuk pengamanan wilayah laut Indonesia. Pembangunan kapal selam ini rencananya akan dilakukan melalui join production agar terjadi transfer technology. Kapal Cepat Rudal adalah kapal patroli berukuran 70 meter. Selain dilengkapi senjata, kapal ini juga dilengkapi rudal sesuai namanya.
Sumber : JURNAS
Kapal jelajah Moskow, atau lebih dikenal dengan nama Proyek 1164 dibuat dan dikembangkan sebagai kapal perang pertama dari kelas kapal jelajah rudal. Ada 4 kapal dari jenis ini yang kini beroperasi di armada laut hitam Rusia, yakni : Atlant, Slava, Moskva dan Krasina. Kapal pertama jenis ini diberi nama oleh NATO dengan kode BLK-COM-1, sekarang kapal ini diberi nama Krasina oleh Rusia.
TANGERANG – Seorang Mahasiswa Institut Teknologi Surabaya (ITS) memasukan data ke dalam sistem Monitoring and Control Sea Transportation (MCST) yang merupakan kapal tanpa awak dengan menggunakan sistem auto pilot pada Pameran Inovasi dan Teknologi 2011 di Puspiptek Serpong,Tangerang Selatan, Banten. Pameran tersebut merupakan rangkaian Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Ke-16.
Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda TNI Hari Bowo, meninjau KRI Banjarmasin-592 yang disiapkan mengikuti kegiatan Brunei Darusalam fleet review (BFR) 2011, di dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta, Senin (27/6). Dalam acara tersebut akan ditampilkan pula eksibisi industri pertahanan dimana Indonesia juga akan menampilkan ranpur Anoa 6×6 buatan Pindad. Sumber : Pos Kota
Amerika Serikat (AS) dan Indonesia akhirnya merampungkan latihan gabungan di perairan Selat Sunda pada Minggu (29/5). Simulasi antiperompakan menjadi salah satu agenda Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) ke-17. Menurut komandan ‘Negeri Paman Sam’, TNI Angkatan Laut (AL) sudah cukup siap untuk bergabung ke dalam pasukan gabungan antilanun di Somalia. ”Saya optimis Indonesia bisa bergabung ke dalam komando pasukan gabungan di perairan Somalia, pasukan gabungan 151,” Komodor (Kolonel) Gugus Pasukan 73.1 US Navy David Welch, pada konferensi pers di kapal perusak (destroyer) USS Howard di perairan Selat Sunda, Minggu (29/5). Welch bertugas mengomandani tiga kapal perang AS yaitu USS Howard, USS Ruben James, dan USS Tortuga. Ia mengatakan TNI AL sudah mengikuti seluruh prosedur penyelamatan warga sipil di dalam latihan antipembajakan kapal.
Wakil Komandan Latihan CARAT-17 TNI AL (Letkol) Gandawilaga menyatakan belum ada rencana bergabung dengan komando pasukan gabungan 151 di Somalia. ”Kita masih mau sharing (berbagi) pengalaman dulu,” ujar Gandawilaga kepada para wartawan. Simulasi antiperompakan dilakukan di KRI Imam Bonjol pada Sabtu (29/5) siang. Dalam waktu dua hingga tiga jam, sembilan personel Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL yang menggunakan sekoci berhasil mengamankan satu pistol dan beberapa senjata laras panjang.
RFS Admiral Panteleyev. (Foto: Ria Novosti)MAKASSAR- Kapal perang Rusia RFS Admiral Panteleyev yang membawa 300 personel, Rabu (25/5/2011) pagi, bersandar di Pelabuhan Terminal Petikemas Makassar, Sulawesi Selatan. Kunjungan kapal tersebut dalam rangka latihan bersama dengan TNI AL Lantamal 6 Makassar dalam menangani perompak. Latihan rencananya akan digelar pada 27 Mei di sekitar perairan Makassar. TNI AL akan melibatkan KRI Oswald Siahaan dalam latihan ini. Menurut Panglima Flotila Armada Pasifik Rusia, Colonel V Sokolov, latihan bersama dengan TNI AL digelar karena kapal-kapal Indonesia yang melintas di Teluk Aden menjadi sasaran empuk perompak Somalia.
Kapal perusak RFS Admiral Panteleyev pernah ditugaskan melakukan misi internasional anti-perompak di perairan Somalia pada 2009. RFS Admiral Manteleyev memiliki panjang 163,5 meter dan lebar 19,3 meter dilengkapi persenjataan rudal antikapal, meriam 30 milimeter dan 100 milimeter, serta dua helikopter KA-Ez Helix. Dalam kunjungan tersebut sebuah kapal sipil Rusia, Fotiy Krylov, juga diikutkan membantu RFS Admiral Panteleyev.
MANADO – Mengamankan wilayah Indonesia yang luas bukanlah semudah yang dibayangkan. Apalagi Indonesia terdiri dari negara kepulauan yang mempunyai wilayah perairan yang sangat luas. Komandan Lantamal VIII TNI AL Laksma Sugiharto, mengaku untuk mengamankan Indonesia pihaknya masih kekurangan kapal. ”Saya memiliki daerah yang menjadi sengketa yaitu Ambalat, sehingga saya diberikan jenis kapal tempur yang selalu beroperasi dengan perbatasan Filipina dan Malaysia. Sekarang idealnya kurang masih, baru tiga, tapi cukup memadai dalam memantau, yang kami gunakan bergantian, dan satu lagi kapal stand by antara Manado dan Tarakan,” jelasnya, di Manado, Jumat (24/6/2011).
Selain itu, dia juga mengaku untuk operasi ini sendiri pemerintah membatasi penggunaan bahan bakar kapalnya, sehingga mau tidak mau harus digunakan secara bergantian. ”Kapal-kapal kecil saya punya untuk operasi terbatas ada delapan, terbatas di pulau pulau saja, dan bahan bakar untuk kapal operasional dibatasi dengan bahan bakar, bagaimana kita dukungan bahan bakar dipatok sekian. Sehingga kita rolling, kadang besar, kadang kecil taktik strategi operasional, tapi tiap hari bergerak, cuma gentian,” tambahnya. ”Supply-nya sudah ada pagunya, kalau itu kan demandnya masyarakat, TNI enggak bisa diganggu,” pungkasnya.
LAUT JAWA – Komandan KRI Rencong-622, Letkol laut (P) Avianto Rooswirawan (kiri) dan Kadep Ops KRI Rencong-622, Mayor laut (P) Agus Joko, berada di ruang Pusat Informasi Tempur (PIT) KRI Rencong, saat uji coba mesin gas turbin di perairan Laut Jawa, Kamis (23/6). Kapal patroli kelas Dagger merupakan salah satu jenis kapal cepat yang dimiliki Koarmatim tersebut merupakan bagian dari persiapan patroli keamanan laut di wilayah timur Indonesia. FOTO ANTARA





